Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2012

The Double Helix


Review by       : Tika P. Agustina
http://psychedelicadventure.blogspot.com
NIM                : 201110070311026
Class                : Biologi I A
Our body have more than billion cells. And  in the cell there is nucleus, sorrounded by  solute that like jelly called cytoplasm, and cytoplasm bounded by a thin cell membrane. In the inside nucleous there is DNA. DNA built by deoxyribose, a phosphate group, and one of four bases called adenine (A), guanine (G), cytosine(S), thymin (T). The bases A,G,S,and T make  strands like rungs on a ladder. Notice that the bases always from spesifc pairs, example bases A always pair with U and T.
DNA or deoxyribonucleic acid is controled our cell. DNA always has same structure it’s from two long strand that wind around each other to from a double helix, or spiral, similar to a telephone cord. DNA  made by coded instruction called genes, that needed to build and controled cells activity. importantly, it’s can also copy itself when cells divide.
In the human body have 46 chromosomes. chromosome consists of DNA and we have known that DNA consists of nucleotides. Each nucleotide consists of deoxyribose sugar-celled, another component called a phosphate group, and one of the four bases DNA can replicate or make copies of itself. This occurs just before a cell is mitosis or meiosis. The result is two cells have identical genes. each base will pair up with her partner, and form a series of letters like the AUG, to form two new DNA strands are identical


By :Stere jones, profesor of genetics and author of darwin’s ghost ,
Page 28-29

Rabu, 12 Desember 2012

Hapuskan Libelarisasi Pendidikan di Indonesia



Pendidikan di Indonesia Mampu Berdiri Sendiri

Dalam alenia ke empat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dicantumkan tujuan-tujuan bangsa Indonesia diantaranya adalah “ Mencerdaskan kehidupan bangsa “. Untuk mencerdaskan anak-anak dan generasi penerus Negeri sudah dapat kita tebak salah satu sarana untuk mewujudkan tujuan ini adalah melaui pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses sistematis yang dilakukan oleh sebuah bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang bersangkutan. Bagi indonesia sebagai sebuah Bangsa yang pernah terjajah selama tiga ratus lima puluh tahun, pendidikan harus pula dipandang sebagai proses sistematis untuk membebaskan diri dari bangsa lain.
Pendidikan berfungsi sebagai proses transformasi budaya, dimana pendidikan digunakan sebagi sarana untuk mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi. Karena sebuah Bangsa dikatakan ada apabila dia memiliki kebudayaan yang khas dan masih mengakar di masyarakatnya. Diera globlalisasi ini bukan hanya IPTEK saja yang beredar malampaui batas negara, tapi kebudayaan juga mengekor dibelakangnya. Dapat kita lihat generasi penerus bangsa kita telah terkontaminasi dengan budaya barat dan cenderung menganggap kuno budaya nya sendiri. Karna itu pendidikan diperlukan untuk menjadi filter segala pengaruh dari luar sehingga bisa mempertahankan kebudayaan yang telah ada di Indonesia. Pendidikan juga sebagi proses penyiapan warga negara. Tentu yang diharapkan adalah warga negara yang baik, namun perlu di ingat kata “baik” itu sendiri relative. Yang dimaksud baik adalah seorang warga negara yang selaku pribadi yang tahu akan hak dan kewajibanya sebagai warga negara, sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 “ Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintah dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tak ada kecualinya”. Selain kedua hal diatas pendidikan juga digunakan sebagai sarana penyiapan tenaga kerja.
Dari kaca mata ini kita tentu dapat mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia pantas menyandang predikat pendidikan yang gagal. Karna dari hasil survei pada tahun 2011 kualitas pendidikan di indonesia menempati urutan ke 12 dari 12 negara  di Asia Tenggara. dan mendapat gelar sebagai follower teknolgi dari 53 negara di dunia. Sungguh sebuah prestasi yang sangat mencoreng nama baik bangsa kita.
Bukanya kebudayaan nasional yang diwariskan namun kebudayaan mencopet dikalangan pejabatlah yang semakin mengakar kuat pada generasi bangsa ini. Bukanya warga negara yang baik yang dibentuk oleh pendidikan justru warga negara yang acuh terhadap kehidupan bangsanya. Dan bukan pula tenaga kerja yang profesional yang dicetak melainkan ribuan TKI yang siap mati ditangan juragan-juragan luar negri. Pendidikan yang gagal akan berakibat sangat fatal bagi sebuah negara. Dimana di era caos ini IPTEK dan uanglah yang  berbicara. Jika pada sektor ekonomi kita sudah kalah bersaing maka dalam pendidikan kita harus bisa bangkit dan berdiri tegak.
Dari uraian di atas dapat kita ketahui betapa pendidikan itu penting bagi sebuah bangsa. Pendidikan harus dimiliki dan dikuasai oleh bangsa itu sendiri karena pendidikan yang akan menentukan pada tingkatan yang mana Indonesia di masa yang akan datang. Namun sepertinya sebuah langkah yang salah telah diambil oleh para wakil kita. Sebuah perubahan baru pada wajah pendidikan di negeri kita pasca penandatanganan General Agreement on Trade in Service (GATS) pada Mei 2005 yang mengatur liberalisai perdangangan 12 sektor jasa, antara lain adalah layanan kesehatan, teknologi informasi dam komunikasai, jasa akutansi, pendidikan tinggi dan pendidikan selama hayat, serta jasa-jasa lainya.  Dan perjanjian itu telah dikukuhkan dengan Perpres nomor 77 tahun 2007 yang menyiratakan bahwa pendidikan menjadi bidang usaha terbuka yang dialihkan dari tanggung jawab negara menjadi usaha bersama antara insvestor lokal maupaun asing dan masyarakat.
Dengan adanya liberalisasi dalam pendidikan maka para investor berpeluang besar untuk menguasai satu-satunya aspek yang dapat mengubah nasib bangsa ini. Apalagi perbedaan pandangan antara Indonesia dengan WTO yang sangat jauh berbeda. Indonesia mewajibkan pendidikan sebagai hak dan kewajuban bangsa Indonesia, sedangkan WTO memandang pendidikan tinggi sebagi salah satu industri sector tersier, karana kegiatan pokoknya adalah mentransformasi orang yang tidak berpengetahuan dan orang yang tidak punya ketrampilan menjadi orang yang berpengetahuan dan orang yang punya ketrampilan. WTO digunakan oleh negara negara maju untuk mengambil anak-anak orang kaya yang tergila-gila untuk bersekolah di luar negri. Sehingga pendapatan di negara mereka akan bertambah.
Dalam hal ini negara-negara majulah yang akan di untungkan. Tiga negara yang paling mendapaatkan keuntungan besar dari liberalisasi jasa pendidikan adalah Amerika Serikat, Inggris dan Australia (Enders dan Fulton, Eds., 2002, hh 104-105). Pada 2000 ekspor jasa pendidikan Amerika mencapai US $ 14 milyar atau Rp. 126 trilyun. Di Inggeris sumbangan pendapatan dari ekspor jasa pendidikan mencapai sekitar 4 persen dari peneimaan sector jasa negara tersebut.
Menurut Millea (1998), sebuah publikasi rahasia berjudul Intelligent Exports mengungkapkan bahwa pada 1994 sector jasa telah menyumbangkan 70 persen pada PDB Australia, menyerap 80 persen tenaga kerja dan merupakan 20 persen dari ekpor total negara Kangguru tersebut, Sebuah survey yang diadakan pada 1993 menunjukkan bahwa industri jasa yang paling menonjol orientasi ekpornya adalah jasa komputasi, pendidikan dan pelatihan. Ekpor jasa pendidikan dan pelatihan tersebut telah menghasilkan AUS $ 1,2 milyar pada 1993. Fakta tersebut dapat menjelaskan mengapa tiga negara maju tersebut amat getol menuntut liberalisasi sector jasa pendidikan melalui WTO.
Dengan adanya liberalisasi tersebut lima perguruan tinggi negri berubah menjadi BHMN . Perubahan status badan hukum ini membuat perguruan tinggi di atas mencari sumber pendananaan yang lain di luar subsidi pemerintah. Liberalisasi pendidikan ini hanyalah bentuk lepas tangan pemerintah terhadap bidang pendidikan. Karna dengan adanya liberalisasi dalam pendidikan akan mengurangkan bahkan meniadakan subsidi pemerintah terhadap pendidikan di Indonesia. Karna segala pendanaaan dibebankan kepada mahasiswa. 
 Sungguh kenyataan yang mencengangkan melihat kondisi pandapatan warga indonesia.
Adanya liberalisasi dalam pendidikan hanya akan membuka rekahan jarak yang baru bagi si kaya dan si miskin di Indonesia.  Karena dengan sistem tersebut hanya orang-orang yang kaya saja yang dapat menyekolahkan anakanya di perguruan tingggi yang ternamana dan berkualitas. Seakan akan liberalisasi pendidikan ini berkata bahwa perguruan tinggi ternama dan berkualitas haram untuk orang miskin. Padahal dalam UU hak kita adalah sama, sama-sama memperoleh hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dari hal ini terbukti sudah bahwa liberalisasi menyebabkan kesempatan anak dari keluarga miskin makin sempit peluangnya untuk kuliah, bahkan liberalisasi ini pada akhirnya akan membuat anak-anak yang memiliki semangat untuk kuliah menjadi padam. Dan 

Mentilin (Tarsius bancanus) Fauna Identitas Bangka Belitung


  Mamalia yang bernama Mentilin atau Tarsius bancanus telah ditetapkan sebagai fauna maskot provini Bangaka Belitung. Hal ini didasarkan pada keputusan menteri Dalam Negri Nomor : 522.53-958/2010. Hewan yang dalam bahasa inggris bernama Horsfield’s Tarsier atau Western Tarsier ini adalah hewan endemik Indonesia. Yang tersebar di pulau Sulawesi, Kalimantan, Bangka dan Belitung.

Posisi filogenik Tarsius yang hidup sekarang, banyak diperdebatkan pada abad yang lalu. Tarsius diklasifikasikan secara bergantian pada Strepsirrhini pada subordo prosimia atau grup saudara dari simia ( Anthropoidea ) dalam infraordo Haplorrhini. Namun sekarang telah ditetapkan bahwa Tarsius adalah primata dari genus Tarsius, suatu genus monotipe dari famili Tarsiidae, satu-satunya famili yang bertahan dari inrfaordo Tarsiiformes. Dahulu ordo ini memiliki penyebaran yang luas. Namun semua spesies yang bertahan hidup sekarang banyak ditemukan di Asia Tenggara terutama di Indonesia. Catatan fosil Tarsius adalah yang terpanjang kesinambungannya dibandingkan genus primata manapun dan cataan itu menandakan bahwa susunan gigi mereka tidak banyak berubah sejak 45 juta tahun yang terakhir.

Taksonomi tarsius
Untuk lebih singkatnya taksonomi seluruh Spesies Tarsius adalah sebagai berikut.

Taksonomi Tarsius


Kingdom :       Animalia

Filum      :       Chordata
Kelas      :       Mamalia 
Ordo       :       Primata
Upraordo :      Haplorrhini
Infraordo :      Tarsiiformes
Famili      :     Tarsiidae
Genus       :     Tarsius
Spesies     :     Grup T. syrichta (Filipina-Barat)
§ Tarsius Filipina, Tarsius syrichta
§ Tarsius Barat, Tarsius bancanus
Grup T. tarsier (Sulawesi)
§ Tarsius Sulawesi, Tarsius tarsier
§ Tarsius Dian, Tarsius dentatus
§ Tarsius Lariang, Tarsius lariang
§ Tarsius Peleng, Tarsius pelengensis
§ Tarsius Sangihe, Tarsius sangirensis
§ Tarsius Siau, Tarsius tumpara[4]
§ Tarsius Kerdil, Tarsius pumilus

Subspesies :     Tarsius dibagi dalam 4 subspesies yaitu :
§  Tarsius bancanus bancanus
§  Tarsius bancanus borneanus
§  Tarsius bancanus natunensis
§  Tarsius bancanus saltator


Ciri-ciri morfologi Tarsius
Dalam tulisan ini kita tidak akan membahas Tarsius secara umum tapi yang kita bahas adalah Tarsius bacanus bancanus dan Tarsius bacanus salsator yang telah dinobatkan sebagai maskot dan menjadi kebanggaan masyarakat Bangka Belitung. Mentilin atau Horsfield’s Tarsier mempunyai ciri-ciri dan perilaku yang sama seperti jenis-jenis Tarsius lainnya . Tubuh primata ini relatif mungil dengan panjang antara 12-15 cm dan dengan berat tubuh 128 gram pada Tarsius jantan dan 117 gram pada tarsius betina sungguh hewan yang mungil sekali. Bulu tubuh Tarsius sangat lembut mirip beludru . Bulu tubuh hewan mungil inipun bergam tapi identik tidak mencolok. Warna bulunya coklat kemerahan hingga abu-abu kecoklatan dan ada pula yang jingga hingga kekuningan. Keunikan lain dari fauna yang satu ini adalah ekornya yang panjang. Panjang ekor Mentilin ini dapat melebihi panjang dari tubuhnya. Panjang ekornya dapat mencapai 18-22 cm namun data lain menyebutkan bahwa panjang ekor Mentilin adalah berkisar antara 20-25 cm.

Mentilin memiliki mata yang besar sekali tiap bola matanya berdiameter 16 mm dan berukuran sebesar keseluruhan otaknya. Bisa dibayangkan bila kita melihat hewan ini dimalam hari mungkin kita akan ketakutan karna melihat dua buah bola mata yang besar dan bersinar di atas pohon. Kaki belakangnya sangat panjang. Tulang tarsusnya sangat panjang dan dari tulang tarsusunya inilah dia diberi nama Tarsius. Panjang kaki belakang hewan mungil ini hampir dua kali panjang tubuhnya. Jari-jari tangan dan kaki Mentilin ini memanjang, dengan jari ketiga kira-kira sama panjangnya dengan lengan atas. Di banyak ujung jarinya ada kuku namun pada jari kedua dan ketiga dari kaki belakang berupa cakar yang biasa mereka pakai untuk merawat tubuh. Jadi bisa kita katakan bahwa Mentilin ini sangat menjaga bulu-bulu tubuhnya. Terkait dengan makanannya mentilin sangat menyukai lampu karna biasanya serangga-serangga kecil yang menjadi makanan Mentilin menyukai lampu dan berkerumun disekitar lampu.

Tidak seperti Prosimia lainnya, tarsius tidak mempunyai sisir gigi, dan susunan gigi mereka juga unik yaitu :
2.1.3.3
1.1.3.3
    Semua jenis tarsius bersifat nokturnal artinya hewan ini tidur pada siang hari dan aktif pada malam hari, dia biasanya berada pada dahan dan ranting-ranting pohon dengan ketinggian 5 meter, namun seperti organisme nokturnal lain beberapa individu mungkin lebih banyak atau sedikit beraktivitas selama siang hari. Tidak seperti kebanyakan binatang nokturnal lain, Tarsius tidak memiliki daerah pemantul cahaya (tapetum lucidum) di matanya. Mereka juga memiliki fovea, suatu hal yang tidak biasa pada binatang nokturnal.
Otak tarsius berbeda dari primata lain dalam hal koneksi kedua mata dan lateral geniculate nucleus, yang merupakan daerah utama di talamus yang menerima informasi visual. Rangkaian lapisan seluler yang menerima informasi dari bagian mata ipsilateral (sisi kepala yang sama) dan contralateral (sisi kepala yang berbeda) di lateral geniculate nucleus membedakan tarsius dari lemur, kukang, dan monyet, yang semuanya sama dalam hal ini.
Tarsius merupakan satwa insektivora berarti dia adalah karnivora, dan menangkap serangga dengan melompat pada serangga itu. Mereka juga diketahui memangsa vertebrata kecil seperti burung, ular, kadal dan kelelawar. Saat melompat dari satu pohon ke pohon lain, tarsius bahkan dapat menangkap burung yang sedang bergerak. Kehamilan pada mamalia ini berlangsung selama enam bulan, kemudian tarsius melahirkan seekor anak. Tarsius muda lahir berbulu dan dengan mata terbuka serta mampu memanjat dalam waktu sehari setelah kelahiran. Mereka mencapai masa dewasa setelah satu tahun. Tarsius dewasa hidup berpasangan dengan jangkauan tempat tinggal sekitar satu hektar.

 

Kondisi Tarsius Sekarang kita bicarakan bagaimana kondisi Mentilin di Indonesia. Terutama keadaanya di pulau Bangka dan Belitung. Menurut IUCN Tarsius bacanus bancanus masuk dalam nominasi hidup dengan resiko rendah (2008). Apalagi perambahan dan penebangan hutan kian marak, bisa dipastikan habitat Tarsius di pulau Bangka dan Belitung semakin sempit dan tentunya akan berdampak pada jumlah hewan endemik ini. Selain itu perusakan hutan terdebut juga  merusak habitat asli dari makanan sehingga  Mentilin kehilangan sumber pangan utamanya yaitu serangga dan burung-burung kecil. Sehingga pada tahun 2011 , secara umum, Mentilin atau Horsfield’s Tarsier dikategorikan dalam status konservasi vulnarable oleh IUCN redlist. Namun jika berdasarkan masing-masing subspesies Tarsius bancanus natunensis dikategorikan Critically Endangered, Mentilin atau Tarsius bancanus bancanus dan Tarsius bancanus saltator dikategorikan sebagai Endangered. Sedangkan Tarsius bancanus borneanus dikategorikan Vulnerable. Sungguh memprihatinkan jika hewan yang di jadikan maskot sebuah Provinsi saja kini menyandang staus endangered. Tentu kita akan berfikir bagaimana dengan kondisi hewan-hewan liar lainnya yang statusnya tidak dijaga oleh hukum atau bahkan belum terdeteksi jumlah dan keberadaanya di Indonesia.


Seperti kasus-kasus lainya pemerintah selalu bertindak lambat seolah-olah tidak tau. Mereka lebih suka memperbaiki kerusakan dari pada mencegahnya. Atas status itulah pemerintah provinsi Bangka Belitung pada tanggal 20 April 2011 kemarin berupaya untuk melestarikan populasi Mentilin. Yaitu dengan melestarikan dan mereboisasi kawasan hutan yang menjadi habitat asli dri Mentilin untuk hidup dan beregenerasi. Kepala badan lingkungan hidup ( BLDH ) Babel Anrullah mengatakan, pihaknya telah menganggrakan 100 juta untuk memebuat sangkar Tarsius bacanus bancanus atau Mentilin di Gunung Tajam Belitung. Pembuatan sangkar ini bukanlah sangkar sangkar seperti pada kebun binatang tapi merupakan sangkar yang menyerupai tempat tinggal Mentilin tersebut Karna mentilin tidak suka dan tidak cocok bila ditempatkan pada tempat yang tertutup. Hewan ini cenderung  akan melukai dirinya sendiri dan kemudian mati hal ini disebabkan karna Mentilin mudah strees. Untuk mengatasi kesulitan ini akan dibentuk sebuah sangakar di Gunung tersebut sehingga menyerupai habitat asli Mentilin.
Sebagai WNI sudah sepatutnya kita berbangga memiliki berbagai macam dan jenis flora dan fauna endemik. Karna selain berpotensi sebagai objek wisata dan lambang negara kita, hal tersebut juga akan meningkatkan rasa ketunggalikaan kita sebagai WNI. Dan rasa bangga itu mari kita tunjukan untuk melestarikan warisan alam Indonesia. Agar anak cucu kita tidak hanya bisa mendengar dongeng tentang kekayaan alam negrinya tapi mereka bisa melihat dan ikut merasakan nikmatnya.